Subak, Budaya Bali yang jadi Warisan Dunia

Pemandangan sawah sudah jadi hal yang biasa di Indonesia, namun sistem pengairan sawah secara tradisional tidak banyak ditemukan di dunia. Dan di Indonesia, tepatnya di pulau Bali, kita bisa menemukan sistem pengairan sawah secara tradisional, bernama Subak.

Subak, sudah lama dipraktekkan di Bali, sehingga menjadi bagian dari budaya Bali. Subak bukan hanya sistem pengairan tradisional, melainkan juga termasuk organisasi lokal yang mengatur sistem pengairannya. Didalam organisasi tersebut juga ada pendirian pura yang khusus memuja pada Dewi Sri, dewi padi, yang dianggap melindungi sawah mereka dari hama, sehingga hasilnya bagus dan dapat dinikmati oleh masyarakat.

Kearifan lokal ini kemudian dijadikan sebagai warisan budaya dunia pada 29 Juni 2012. Sistem Subak ini bisa dilihat pada pemandangan sawah yang bertingkat-tingkat, dan adanya pura di persawahan tersebut.

Cantiknya Candi Buddha, Candi Kalasan

Indonesia punya banyak peninggalan candi, terutama candi agama Hindu dan Buddha. Tidak heran, karena dua agama ini pernah menjadi agama resmi kerajaan-kerajaan di nusantara, terutama tanah Jawa dan Sumatera. Salah satu bangunan candi Buddha yang masih berdiri sampai sekarang, berlokasi di Jogjakarta, tepatnya kabupaten Sleman, salah satu daerah yang terkenal sebagai daerah tujuan wisata di Jawa.

Candi bernama Kalasan ini diperkirakan dibangun pada 778 Masehi, ditujukan untuk pemujaan Dewi Tara, dan tempat bersembahyang para biksu Buddha. Sayangnya di dalam candi ini sudah tidak ada arca Dewi Tara. Menurut informasi, Candi Kalasan ini telah mengalami tiga kali pemugaran. Pemugaran pertama yaitu tahun 1927 sampai dengan tahun 1929 oleh Van Romondt, arkeolog Belanda.

Candi berbentuk empat persegi panjang berukuran 34 x 45 m memiliki dinding dengan pahatan daun kalpataru yang keluar dari jambangan bulat pada bagian kakinya. Sedangkan sepanjang dinding, ada cekungan berisi arca, meskipun ada beberapa cekungan yang kosong. Diatas pintu dan cekungan ada arca bermotif Kala. Ada 4 pintu di keempat sisinya, namun hanya pintu bagian timur dan barat yang ada anak tangga untuk mencapai pintu masuk ruang tengah candi. Relung pintu candi ada pahatan dewa memegang buang teratai.

Bagian atas candi berbentuk kubus yang melambangkan puncan Meru, dikelilingi 52 stupa, dengan rata-rata tinggi 4,60 m. Sepanjang batas atap dan tubuh candi dihiasi deretan makhluk kecil disebut Gana.

Atap candi berbentuk segi delapan, dan bertingkat dua. Tingkat pertama dihiasi dengan relung arca Buddha, dan di tingkat dua dihiasi relung berisi arca Dhayani Buddha. Sebetulnya terdapat stupa di puncak candi, namun karena tiga kali pemugaran tidak ditemukan batu aslinya, maka puncak candi dibiarkan seperti yang bisa kita lihat sekarang.

Pura Ulun Danu

Pulau Bali dikenal sebagai pulau dengan banyak pura (rumah ibadat umat Hindu). Tidak mengherankan karena mayoritas penduduk pulau Bali beragama Hindu. Salah satu pura yang terbesar di Pulau Bali yaitu Pura Ulun Danu.

Pura Ulun Danu bernama lengkap Pura Ulun Danu Beratan berlokasi di tepi Danau Beratan, Bedugul, kira-kira 56 km dari ibukota Bali, Denpasar.

Sejarah pendirian Pura Ulun Danu Beratan dapat dilacak pada salah satu kisah yang terekam dalam Lontar Babad Mengwi. Dalam babad tersebut dituturkan mengenai seorang bangsawan bernama I Gusti Agung Putu yang mengalami kekalahan perang dari I Gusti Ngurah Batu Tumpeng. Untuk bangkit dari kekalahan tersebut, I Gusti Agung Putu bertapa di puncak Gunung Mangu hingga memperoleh kekuatan dan pencerahan. Selesai dari pertapaannya, ia mendirikan istana Belayu (Bela Ayu), kemudian kembali berperang melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dan memperoleh kemenangan. Setelah itu, I Gusti Agung Putu yang merupakan pendiri Kerajaan Mengwi ini mendirikan sebuah pura di tepi Danau Beratan yang kini dikenal sebagai Pura Ulun Danu Beratan

Pura ini diperkirakan berdiri pada 1634 masehi, dan dianggap sebagai bangunan untuk pemujaan kepada tiga dewa yaitu Siwa, Brahma, dan Wishnu. Namun awalnya bangunan ini ditujukan untuk memuja dewa Siwa dan dewi Parwati, dengan adanya simbol kesuburan, yaitu lingga dan yoni.

Selain sebagai tempat beribadat, pura ini juga digunakan sebagai pura Subak, yaitu pura yang mengatur irigasi pertanian dan disokong oleh organisasi adat.

Suku Dani, Suku di Papua

Papua, pulau terbesar di Indonesia, dihuni banyak suku, salah satunya Suku Dani. Suku Dani ini mendiami Lembah Baliem, dan sering disebut dengan Suku Paliem.  Suku bangsa Dani percaya pada roh, yaitu roh laki-laki (Suangi Ayoka) dan roh perempuan (Suangi Hosile).

Suku bangsa Dani mempercayai atou, yaitu kekuatan sakti yang berasal dari nenek moyang yang diturunkan kepada anak lelakinya, yaitu kekuatan menjaga kebun, kekuatan menyembuhkan penyakit, dan kekuatan menyuburkan tanah.

Mitos menceritakan bahwa orang pertama/ manusia pertama suku Dani bernama Pumpa (laki-laki) dan Nalinali (perempuan) yang masuk ke Lembah Baliem dari arah timur melalui sebuah Goa. Ada beberapa sumber yang mengatakan Goa pertama tempat keluarnya manusia pertama ini berasal dari Goa Kali Huam (Daerah Siepkosy), ada pula yang mengatakan dari Goa di Daerah Pugima dan sebagian mengatakan bahwa keluarnya Manusia pertama suku dani ini berasal dari dari Pintu masuk angin di daerah Kurima.

Sampai dengan saat ini diperkirakan Suku Dani yang mendiami wilayah lembah baliem merupakan Generasi ke-5. Mata pencaharian pokok suku Dani adalah bercocok tanam ubi kayu dan ubi jalar. Ubi jalar adalah tanaman utama di kebun-kebun mereka. Tanaman-tanaman mereka yang lain adalah pisang, tebu, dan tembakau.

Tempat PON Indonesia Pertama, Taman Sriwedari Solo Jawa Tengah

Salah satu taman di kota Solo yang banyak dikunjungi masyarakat Solo dan kota lainnya, yaitu Taman Sriwedari. Taman ini berlokasi di Laweyan, sebuah kampung batik di Solo.

Dibangun oleh saudara ipar perempuannya Paku Buwono X pada tahun 1877, taman ini dikenal sebagai tempat beristirahatnya anggota kerajaan apabila berjalan-jalan di kota Solo. Di foto postcard, icon taman ini yaitu patung sepasang Rama Shinta, untuk memperingati 100 tahun taman ini. Patung ini dibuat pada tahun 2007. Namun kenyataannya, banyak hal menarik yang bisa dilihat di taman ini.

Ada banyak pertunjukan seni budaya, pameran, kerajinan khas, dan hal-hal lainnya yang menampilkan kreasi dan hasil karya masyarakat kota Solo. Juga ada tempat memancing, gedung pementasan wayang orang, dan penjualan buku.

Tempat ini juga tempat berlangsungnya PON pertama di Indonesia. Wah keren ya….

Untuk memasuki tempat ini cukup membayar tiket masuk 5000 rupiah per orang. Tempat ini buka dari jam 08.00 pagi sampai jam 22.00 malam.

Pantai Sanur Bali

Bali terkenal dengan pantai-pantainya yang indah, salah satunya Pantai Sanur. Pantai Sanur dikenal sebagai salah satu pantai yang tenang, nyaman untuk bersantai, bermain-main, karena pasir putihnya yang tebal.

Di Pantai Sanur ini, kita akan melihat lebih dari 50% pengunjungnya adalah orang asing. Disini kita bisa menikmati es kelapa, makanan dan minuman lain di kedai-kedai kecil di sepanjang taman, bermain kano, atau olahraga air lainnya.

Hal yang menarik di tempat ini juga, terdapat Museum Le Meyeur, seorang seniman lukis Eropa yang menikah dengan perempuan Bali di salah satu pantai di Sanur.

Keindahan bentang alam Pantai Sanur dapat semakin terlihat dari udara seperti yang disajikan di postcard Pantai Sanur ini.

Sigale-gale, Kesenian Khas Suku Batak di Pulau Samosir

Aku melihat tulisan dalam postcard bergambar kesenian dari Batak, Sumatera Utara, tertulis Sigale-gale. Apa ya Sigale-gale itu? Ternyata, Sigale-gale merupakan pertunjukan dari Pulau Samosir, Sumatera Utara, yang melibatkan boneka, yang dianggap mistis.

Sigale-gale berbentuk boneka kayu yang dibuat untuk membahagiakan Raja Rahat, salah satu raja dari Pulau Samosir. Alkisah, sang raja memiliki putera tunggal bernama Raja Manggale, yang gugur di medan perang, dan jasadnya tidak pernah ditemukan.

Sang raja pun sangat sedih sampai jatuh sakit. Akhirnya para tetua kerajaan membuat patung yang mirip dengan Manggale, dan memanggil roh Manggale agar patung bisa bergerak dan terlihat ‘hidup’.  Sejak melihat patung itu, sang raja pun sembuh dari sakitnya. Sejak saat itu pun masyarakat Batak menyebut patung tersebut Sigale-gale, diambil dari Manggale.

Versi cerita yang lain, konon ada sepasang suami istri yang tidak dikaruniai keturunan. Sang suami yang merupakan dukun bernama Datu Partoar kemudian pergi ke hutan dan menemukan sebuah boneka mirip anak perempuan dan Datu mengubahnya menjadi seorang anak manusia yang diberi nama Nai Manggale. Nai Manggale dirawat oleh orangtua yang menemukannya dan menari disamping jenazah mereka ketika mereka meninggal, namun Nai sedih karena ia tidak bisa memiliki anak seperti mereka. Pada akhirnya Nai membuat sebuah boneka patung seperti dirinya lagi untuk bisa ia angkat sebagai anak juga. Kebiasaan ini menurun pada warga Samosir ketika mereka menginginkan anak namun tidak bisa mendapatkannya/kehilangan.

Saat ini pertunjukan patung Sigale-gale sudah tidak menggunakan roh tapi dengan teknologi yang bisa menggerakan patung.

Biasanya saat bergerak dan menari, alat musik tradisional bernama sordam, dan gondang sabangunan mengiringi si patung. Kemudian juga terdapat penari tor-tor yang berjumlah 8 sampai 10 orang.

Keindahan Interior Gereja Katedral Jakarta melalui Postcard

Bangunan tua dengan menara runcing menjulang tinggi di kawasan Lapangan Banteng itu kelihatan mencolok. Gereja Katolik Santa Maria Pelindung Diangkat ke Surga atau lebih dikenal dengan Gereja Katedral Jakarta inilah bangunan tua tersebut. Bangunan yang diresmikan dan diberkati 21 April 1901 masih digunakan untuk ibadat sampai sekarang.

Gereja ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans, dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Provicaris Carolus Wenneker. Pekerjaan ini dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit, akhirnya diresmikan, dan diberkati oleh Mgr.Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta.

Gereja ini terbuka untuk umum, baik dalam waktu ibadat ataupun tidak. Semua umat dan orang-orang yang sekedar mengagumi atau memfoto keindahan bangunan disambut dengan baik. Pada waktu-waktu tertentu, misalnya ulang tahun gereja, pihak gereja akan membuka museum yang ada di dalam gereja. Disaat itulah masyarakat umum dapat berkeliling gereja, melihat barang-barang koleksi gereja, yang tentunya berkaitan dengan kegiatan keagamaan.

Keindahan interior gereja inilah yang diangkat dalam postcard tema bangunan lama. Foto diambil pada tahun 2015 ketika tour keliling gereja. (Diyah Wara)

Sesajen, Sesaji, Banten

Ketika kita berkunjung ke Bali, entah liburan, bekerja ataupun kegiatan lainnya, pasti menemui sesaji kecil di berbagai tempat. Entah itu di toko, rumah, jalan, dan lain-lain. Pada beberapa perayaan, sesaji berukuran besar terlihat banyak.

Sesaji atau sesajen atau banten (bahasa Bali), merupakan bentuk syukur atau persembahan kepada leluhur atau nenek moyang, dan kepada mahluk-mahluk di sekitar tempat yang dianggap keramat, agar tidak mengganggu manusia.

Sebetulnya sesaji ini tidak hanya ditemukan di Bali tapi di berbagai tempat di Indonesia. Hal ini masih dilakukan karena masyarakat Indonesia tetap menjalankan tradisi leluhur, tidak terkait dengan agama yang dianut.

Sesajen memiliki nilai yang sakral bagi masyarakat Indonesia, terutama yang masih mempercayai bahwa tujuan pemberian sesaji ini agar mendapatkan berkat, sehingga sesaji diletakkan di tempat-tempat yang dianggap keramat, suci, dan nilai magis yang tinggi. (Diyah Wara)

Elang Bondol, Maskot Jakarta

Salah satu fauna yang dijadikan maskot kota di Indonesia yaitu Elang Bondol (Haliastur indus).  Elang Bondol dijadikan maskot kota Jakarta, ibukota Indonesia bukan tanpa sebab. Fauna ini sudah lama masuk dalam daftar fauna yang terancam punah, karena perdagangan ilegal dan perburuan. Berdasarkan informasi survey 2004, diperkirakan hanya tinggal 15 ekor Elang Bondol yang masih ada, dan hidup di kepulauan Seribu.

Elang Bondol, seperti Elang Laut, hidup disekitar rawa-rawa, tepi laut, muara atau danau. Elang jenis ini tidak hanya ditemukan di wilayah Jakarta tapi juga di pulau lainnya di Indonesia, seperti pulau Sulawesi, dan di benua Asia, serta Australia.

Makanan Elang Bondol yaitu daging segar, seperti ayam kecil, mamalia kecil, kepiting, dan hewan yang lebih kecil dari tubuh Elang Bondol.

Terus, kenapa Elang Bondol dijadikan sebagai maskot? Karena dulu Elang Bondol banyak ditemukan di daerah pesisir Jakarta, dan hutan mangrove (bakau) Jakarta. Tapi seiring jaman jumlahnya sudah semakin menurun, sehingga perlu dilindungi dengan dijadikan maskot kota. (Diyah Wara)