Pantai Karang Bolong di Jawa Tengah

Pantai Karang Bolong merupakan salah satu nama pantai di Propinsi Jawa Tengah, tepatnya di Kebumen. Pantai ini tidak terlalu dikenal oleh masyarakat, karena ombaknya besar, sehingga berbahaya untuk berenang. Pantai ini disebut dengan Karang Bolong dikarenakan adanya gugusan karang yang bolong di sisi timur pantai ini.

Karang bolong berupa gua tersebut, memiliki panjang 30 m, lebar 10 m, dan tinggi 5 m. Diperkirakan gua karang tersebut sudah terbentuk sejak 30-15 juta tahun yang lalu. Namun tidak ditemukan ornament atau gambar relief di gua tersebut. Di karang-karang yang bolong inilah, sering ditemukan ikan karang yang dagingnya cukup enak.

Berpasir landai, pantai ini seharusnya cocok untuk bermain-main di pasirnya, sayangnya pasir ini mengalami abrasi terus menerus dikarenakan ombak yang kuat, sehingga menjadikan pantai ini tidak cocok untuk sekedar bermain-main. Kegiatan yang sering dilakukan di pantai ini yaitu memancing ikan karang.

Jadi apabila ingin mencoba memancing ikan karang sekaligus mengkonsumsinya, silahkan datang ke Pantai Karang Bolong ini ya…

Advertisements

Melati Gambir

Indonesia memiliki banyak bunga khas, salah satunya melati. Melati ini pun dijadikan salah satu maskot kota Jakarta, yaitu jenis Melati Gambir. Melati Gambir? Ya, Melati Gambir, bernama latin Jasminum elongantum, agak mirip dengan kamboja, hanya lebih harum, dan pohonnya lebih rindang. Disebut Melati Gambir, karena bunganya berwarna putih kemerahan, seperti gambir.

Menurut pakar Botani, di dunia, ada sekitar 200-an jenis melati, namun baru 8 jenis yang berhasil dibudidayakan dan potensial menjadi tanaman hias, atau bahan campuran parfum, teh, bunga tabur, campuran kimia, dan lain-lainnya. Di Jawa sendiri, ada 3 jenis melati yang dibudidayakan, yaitu Melati Putih, Melati Gambir, dan Melati Hutan (star jasmine).

Dari sejarahnya, bunga melati secara umum mulai dibudidayakan pertama kali oleh orang Inggris pada tahun 1665. Kemudian ada penemuan jenis melati baru di kawasan India Barat, yang dibudidayakan secara massal pada tahun 1923. Sedangkan tanaman melati di Indonesia, belum tercatat secara resmi kapan mulai dibudidayakan di Indonesia, kemungkinan bersamaan dengan adanya pemerintahan kolonial Inggris. Awalnya rata-rata bunga melati tumbuh di hutan-hutan, dan pada masa pembukaan lahan pertanian dan perkebunan di Jawa, masyarakat pun mulai menanam melati di pekarangan, kebun, atau lahan miliknya atau milik seorang tuan tanah.

Bunga melati berukuran 2-3 cm ini biasanya digunakan sebagai bahan parfum dan pewangi teh. Hampir semua pabrik teh melati di Jawa kemudian menggunakan melati gambir untuk campuran teh melatinya. Melati Gambir ini memang bukan asli dari Jakarta, namun berasal dari pulau Jawa. Dan konon, dulu banyak dikembang tumbuhkan di daerah Jakarta, sebagai campuran untuk teh dan minyak wangi.

Sayangnya, dengan semakin berkembangnya pertumbuhan kota Jakarta, pepohonan Melati Gambir pun mulai menurun.  Karena itu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggunakan bunga ini menjadi salah satu maskot kota.

Rende Traditional House, East Sumba

Pulau Sumba, pulau di kawasan timur Indonesia saat ini merupakan salah satu destinasi populer untuk wisatawan mancanegara dan dalam negeri. Di pulau yang masuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur ini, kita bisa menemukan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa.

Salah satu obyek wisata yang menjadi andalan di Pulau Sumba, yaitu rumah adat dengan kuburan batu yang berukuran besar atau batu megalitikum. Seperti di Kampung Praiyawang, Desa Rende, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, kita bisa menikmati kampung adat, dengan rumah-rumah tradisional, yang dibangun dari bahan-bahan alam sekitarnya, dan kuburan raja-raja yang sudah tua, terbuat dari batu besar dengan berat satu sampai dua ton. Untuk mengangkat batu-batu tersebut, akan diadakan upacara khusus, dan akan dibawa dengan cara yang tradisional, yaitu ditarik beramai-ramai dengan hewan dan manusia.

Di Desa Rende ini, tidak hanya satu kuburan batu yang dapat dilihat, melainkan banyak jumlahnya, dan di atasnya biasanya terdapat patung kepala kerbau dengan tanduk yang panjang, menandakan bahwa yang dimakamkan merupakan keturunan raja atau bangsawan. Batu-batu untuk makam tersebut diambil dari perbukitan di sekitar desa. Sebelum di buat menjadikan makam, biasanya batu akan dipahat terlebih dahulu dengan simbol buaya, ular naga, kura-kura, dan kuda pacu. Simbol-simbol bergambar hewan ini sesuai dengan hewan yang dianggap suci dalam kepercayaan tradisional orang Sumba, Merapu.

Desa Rende ini hanya berlokasi 40 km atau 1,5 jam perjalanan dari kota Waingapu, ibukota Kabupaten Sumba Timur.

Kete Kesu

Tana Toraja dikenal memiliki budaya yang unik. Salah satunya tradisi memakamkan orang yang sudah meninggal di bebatuan, gunung-gunung atau di gua-gua. Tidak hanya itu, upacara kematian di Tana Toraja menjadi salah satu upacara pemakaman termahal di Indonesia, karena melibatkan biaya yang tidak sedikit.

Kete Kesu merupakan salah satu desa tua yang menjadi desa wisata, karena ketika memasuki desa ini, kita akan dikenakan biaya 10 ribu rupiah. Berlokasi 4 km dari Rantepao, kota Tana Toraja, Kete Kesu merupakan desa yang sudah mempertahankan tradisinya beratus-ratus tahun.

Di desa ini sehari-hari kita bisa menikmati keindahan rumah adat Toraja, yang disebut Tongkonan dan lumbung padi di setiap bagian depan Tongkonan. Kemudian kita juga bisa mengunjungi pemakaman unik di gua-gua. Pemakaman ini juga terdapat patung-patung orang yang meninggal, yang dibuat menyerupai wajah orang yang meninggal. Serem juga sih….

Anggrek Doritis pulcherrima

Bunga anggrek Doritis pulcherrima, tumbuh hanya di negara-negara Asia Tenggara, Tiongkok, dan India. Di Indonesia, bunga anggrek jenis ini banyak ditemukan di Sumatera dan Kalimantan. Untuk di Indonesia, bunga anggrek ini disebut dengan anggrek bulan. Oh… anggrek bulan, iya, ada ya lagu Indonesia judulnya anggrek bulan.

Saking terkenalnya si anggrek bulan ini di Indonesia, maka anggrek ini dijadikan salah satu bunga khas Indonesia. Anggrek ini awalnya tumbuh di hutan, kemudian dikembangbiakan dan dibudidayakan karena sering dipakai untuk acara-acara resmi.

Anggrek bulan biasanya hidup diatas tanah dan membutuhkan sinar matahari yang banyak untuk hidup.

Pulau Lengkuas, Belitung

Pulau Lengkuas berlokasi di Provinsi Bangka Belitung ini, berada di timur pulau Belitung. Pulau ini merupakan salah satu wisata utama yang harus dikunjungi ketika kita berada di Belitung. Untuk mencapai pulau ini kita bisa memakai perahu kayu bermotor milik nelayan atau speed boat, dengan melewati pulau kecil lain.

Ukuran pulau yang kecil, membuat kita bisa mengelilingi pulau dengan hanya 20 menit saja. Tapi di pulau inilah terdapat mercusuar yang sudah ada lama berdiri, yaitu sejak 1882, atau jaman pemerintahan kolonial Belanda. Dan mercusuar setinggi 6 meter tersebut masih digunakan untuk mengatur arus lalu lintas kapal-kapal yang memasuki laut Belitung. Di atas mercusuar itu kita bisa melihat pemandangan pulau Lengkuas dari atas.

Tidak hanya mercusuar, pantai nya yang indah dan berpasir merupakan salah satu daya Tarik pulau ini. Kemudian di pulau ini juga ditemukan kolam bidadari, yang terbentuk dari air laut diantara batu-batu granit.

Musim terbaik mengunjungi pulau ini yaitu bulan Maret sampai November, ketika musim kemarau.