Reog Ponorogo, Legenda Pertarungan Singa dan Merak

Penari berpakaian warna-warni dan menaiki kuda-kudaan terbuat dari anyaman bambu tersebut, menari meliuk-liuk mengikuti irama. Kami menyebutnya tarian kuda lumping, atau kuda yang ‘menggila’ karena irama musik.

Biasanya ketika penari kuda lumping mulai menari, tidak lama kemudian keluarlah penari membawa hiasan bermuka singa dengan bulu merak yang indah. Penari tersebut kami namakan Reog.

Tarian Reog berasal dari daerah yang indah di kaki gunung Bromo, yaitu Ponorogo, sebuah daerah di Provinsi Jawa Timur. Asal tarian ini ada berbagai versi. Namun versi yang terkenal yaitu tentang Ki Ageng Kutu.

Alkisah, seorang tokoh sakti pada masa kerajaan Majapahit, bernama Ki Ageng Kutu yang tidak mempercayai pemerintahan yang dijalankan oleh rajanya, Bhre Kertabhumi, dan melakukan protes melalui seni tari. Protesnya diwujudkan dalam tarian Singa Barong, yang melambangkan kekuasaan yang raja, dengan bulu-bulu meraknya, yang melambangkan pengaruh Tiongkok dalam kerajaan Majapahit pada masa itu. Singa Barong tersebut kemudian dibawa langsung oleh Ki Ageng Kutu, dengan bertumpu pada giginya. Tarian Singa Barong ini yang kemudian dikenal dengan nama Reog Ponorogo.

Advertisements

Tangkuban Perahu

Asap tipis menyelubungi kawasan kawah yang terbuka tersebut. Asap tersebut berasal dari belereng di kawasan kawah tersebut. Pemandangan itulah yang akan kita saksikan kalau berkunjung ke kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu.

Gunung yang berada di Propinsi Jawa Barat ini, termasuk dalam salah satu kawasan wisata terpopuler bagi masyarakat Indonesia.

Konon, gunung ini terbentuk dari perahu yang terbalik. Alkisah, ada seorang pangeran bernama Sangkuriang, yang hidup sendiri di dalam hutan. Sebetulnya Sangkuriang memiliki seorang ibu, bernama Nyi Dayang Sumbi, seorang perempuan keturunan seorang bidadari yang dikutuk sebagai babi hutan dan seorang raja. Nyi Dayang Sumbi memiliki Sangkuriang, hasil pernikahannya dengan seorang raja yang dikutuk menjadi anjing, bernama Tumang. Tumang ini lah yang menemani Nyi Dayang Sumbi selama hidup di hutan. Namun Sangkuriang tidak pernah diberitahu sebetulnya siapa ayahnya. Dan pada saat Sangkuriang remaja, Sangkuriang tidak mendapatkan hewan buruan apapun untuk ibunya. Dia pun membunuh Tumang untuk dipersembahkan kepada ibunya. Mengetahui hal tersebut, Nyi Dayang Sumbi pun murka dan mengusir Sangkuriang dan tidak mengakui nya sebagai anaknya. Sejak itu, Sangkuriang pun hidup sendiri.

Sampai pada suatu hari, Sangkuriang melihat perempuan cantik dan jatuh hati, tanpa tahu bahwa sebetulnya dia adalah Nyi Dayang Sumbi, ibu kandungnya. Sangkuriang pun melamar Nyi Dayang Sumbi, tapi di tolak karena Nyi Dayang Sumbi mengetahui bahwa laki-laki yang melamarnya adalah Sangkuriang, anak kandungnya. Nyi Dayang Sumbi pun mengajukan syarat yaitu pembuatan perahu yang besar sebagai mas kawinnya. Sangkuriang hampir berhasil membuat perahu, hanya Nyi Dayang Sumbi memohon pada dewa untuk menggagalkan pekerjaan Sangkuriang. Akhirnya, Sangkuriang pun gagal membuat perahu dan menendang perahu nya sampai jauh dan jatuh terbalik. Itulah yang diyakini masyarakat sebagai Gunung Tangkuban Perahu atau perahu yang jatuh tertelungkup atau terbalik.

Apapun dongeng tragis yang melatarbelakanginya, kawasan Gunung Tangkuban Perahu memiliki pemandangan yang luar biasa indah seperti di dalam kartu pos ini. Instagramable istilahnya sekarang. Lokasi yang cocok untuk refreshing dan berfoto tentunya. (Diyah Wara)

Malioboro

Kalau berkunjung ke kota Yogyakarta, biasanya kita akan mampir ke daerah Malioboro. Di Malioboro, kita bisa berbelanja oleh-oleh, barang-barang unik, wisata kuliner, atau sekedar window shopping.

Kawasan ini sudah menjadi pusat perdagangan dan pusat keramaian sejak masa silam. Berasal dari kata malioboro yang berarti karangan bunga, kata ini juga menurut informasi berasal dari nama seorang Inggris bernama Malborough.

Awalnya Jalan Malioboro ditata sebagai sumbu imaginer antara Pantai Selatan (Pantai Parangkusumo) – Kraton Yogya – Gunung Merapi. Malioboro mulai ramai pada era kolonial 1790 saat pemerintah Belanda membangun benteng Vredeburg pada tahun 1790 di ujung selatan jalan ini.

Jalan Malioboro menjadi semakin berkembang dan ramai dengan adanya pedagang-pedagang Tionghoa.

Saat ini Malioboro tetap menjadi salah satu destinasi utama di Yogyakarta dengan ciri khas nya warung lesehan.

Bulus

Tahukah kamu apa itu bulus? Akal bulus? Bukan akal bulus, tapi bulus saja. Tidak tahu ya? Bulus atau labi-labi itu sejenis binatang seperti kura-kura tapi biasanya tinggalnya di sungai, rawa-rawa, atau danau. Mirip kura-kura, cuma tempurungnya lebih lunak, lehernya dapat dijulurkan menjadi panjang, dan moncong yang runcing. Sekilas kepala bulus ini mirip dengan ular, karena itu dikategorikan dalam jenis reptil.

Tidak seperti kura-kura yang jinak, bulus ini dapat menggigit siapapun yang memegang atau dianggap mengancam keselamatannya. Hal yang unik lagi, kaki bulus ini memiliki selaput seperti bebek, dan hewan ini seperti kura-kura atau penyu, dapat hidup di air dan darat.

Di Indonesia, bulus atau labi-labi dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Lombok.

Saat ini, bulus ini sering diburu untuk dibuat menjadi minyak atau makanan Tionghoa bernama Pi Oh. Tidak hanya itu, bulus sering dipelihara dan dikeramatkan, untuk tujuan pesugihan atau mencari kekayaan atau kesuksesan dengan cara cepat.  Minyak bulus dipercaya dapat  menghaluskan kulit, menghilangkan jerawat, mengeringkan luka secara cepat, menghilangkan bekas luka, mengencangkan kulit, menghambat penuaan, dan mengencangkan payudara.

Kepik, Hewan Kecil Pandai Memanipulasi Predator

Hewan kecil, lucu dengan punggung berwarna merah hitam ini, dikenal dengan nama Kepik atau Ladybug. Padahal hewan ini memiliki nama asli Kumbang Koksi di Indonesia 😊

Ada sekitar 5000 spesies dari jenis kumbang yang ada didunia. Berbentuk kecil bulat, dengan kaki pendek, berambut, dan berminyak, serta memiliki antena. Minyak pada bagian kaki membuat Kepik mudah menempel pada tempat sulit, seperti kaca dan langit-langit.

Dari sendi kaki Kepik dapat mengeluarkan cairan dengan bau busuk sehingga membuat predator enggan memangsanya. Bintik-bintik dan warna yang khas juga dimaksudkan untuk tidak menarik bagi predator. Selain itu, Kepik juga bisa berpura-pura mati untuk terhindar dari predator.

Kepik termasuk serangga yang rakus, dapat memakan kutu daun sebanyak 5000 dalam durasi 3-6 minggu. Serangga kecil memang menjadi makanan utamanya. Kepik bisa ditemukan di semua negara yang memiliki kawasan dengan tanaman yang menjadi tempat makanan utamanya. Di Indonesia, Kepik sering ditemukan di daerah persawahan, dimana lokasi kutu daun berwarna putih sering dilihat.

Minangkabau Traditional House “Rumah Gadang”

Kita mengenal rumah tradisional Minangkabau yaitu rumah gadang. Padahal rumah gadang hanya salah satu bentuk rumah tradisional di Minangkabau. Rumah Gadang berbentuk rumah panggung, dengan atap seperti tanduk kerbau, biasanya beratap dari sirap, daun kelapa, dan bahan-bahan dari alam lainnya.

Rumah Gadang ini selain berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus sebagai tempat musyawarah masyarakat Minang. Menurut tradisi rumah Gadang tidak dimiliki perorangan, melainkan masyarakat. Rumah gadang Bersama sawah, ladang, hutan, dan tanah adat menjadi harta-pusako-tinggi, atau kekayaan masyarakat di sekitar rumah gadang yang bernilai tinggi. Karena termasuk dalam kekayaan masyarakat, di Nagari Pagaruyung, hanya para Datuk (pemuka adat) yang berhak membangun rumah Gadang.

Sebetulnya tidak ada ukuran yang pasti untuk membangun rumah Gadang, namun bentuknya harus memanjang yang disebut ‘ruang’, kearah melebar yang disebut ‘lanjar’ atau labuah gadang’. Biasanya panjang rumah Gadang bervariasi antara 3,5,7 sampai 9 ruang, dengan lebar tidak lebih dari 4 lanjar.

Saat ini rumah Gadang yang berukuran besar, dengan ornament yang indah, berupa ukiran diatas kayu hanya bisa terlihat di tempat tertentu di Minangkabau, biasanya desa adat.

Desa Batubulan Bali

Dalam perjalananku ke Pulau Dewata, Bali, aku pun mengunjungi sebuah desa wisata di Gianyar, Bali. Desa Batubulan namanya. Alkisah, desa ini dibangun oleh Dewa Agung Kalesan dan pengikutnya. Awalnya ketika Dewa Agung kalesan memperluas wilayahnya dan menemukan sebuah batu bercahaya seperti bulan di tempat yang sekarang dikenal sebagai Desa Batubulan.

Desa Batubulan merupakan desa wisata yang menjadi pusat sentra kerajinan seperti ukiran kayu, tekstil, dan seni lainnya. Di desa inilah ternyata juga awal munculnya Tarian Kecak. Disini, kita juga akan disuguhkan pemandangan sawah yang indah, seperti dalam kartu pos ini.

Untuk mencapai desa ini kita hanya perlu waktu kurang lebih 30 menit dari bandara atau kota Denpasar, ke arah Ubud.

Hornbill, The Unique Bird of Indonesia

Salah satu burung khas Indonesia, yaitu Hornbill, atau burung rangkong, julang, kangkareng, atau enggang dalam bahasa Dayak. Dan ternyata Indonesia sebagai negara yang memiliki jenis burung rangkong (bucerotidae) terbanyak di dunia, yaitu dari 57 spesies, 14 spesies ada di Indonesia. Ada 3 species burung rangkong yang memang hanya ada di Indonesia.

Di Indonesia, burung jenis ini tersebar di pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Sumba. Tiga species khas Indonesia yaitu Julang Sulawesi Ekor Hitam (Rhyticeros Cassidix), Julang Sulawesi Ekor Hitam (Penelopides exarhatus), dan Julang Sumba (Rhyticeros averitti).

Burung rangkong di Indonesia bisa mencapai berat 40-130 gram, dengan ciri khas paruhnya seperti tanduk. Bagian tubuh burung Rangkong biasanya berwarna hitam pekat, atau beberapa tempat berwarna putih, dengan warna yang sangat berwarna pada bagian paruh. Di Kalimantan, khususnya bagi masyarakat Dayak, burung Rangkong dipercaya memiliki kekuatan magis, dan titisan dewa atau roh leluhur. Bahkan tarian tradisional suku Dayak pun banyak yang terinspirasi dari burung ini, lengkap dengan kostum tari memakai bulu burung. Burung Rangkong Badak bagi masyarakat Dayak melambangkan kekuatan, kesucian, dan kekuasaan.

Makanan utama burung ini yaitu buah-buahan, dan sesekali binatang berukuran kecil seperti kadal, kelelawar, tikus, ular, dan serangga. Habitat utama burung Rangkong yaitu hutan lebat, yang berada didataran tinggi dan rendah. Karena itu, saat ini jumlah burung Rangkong menurun drastis akibat deforestasi yang terjadi di berbagai tempat yang menjadi habitatnya. Selain itu, burung Rangkong juga ditangkap untuk diperdagangkan. Saat ini jenis burung Rangkong yang paling terancam yaitu Rangkong Gading.

Burung Rangkong dapat menyebar biji hampir 100 kilometer, sehingga berperan pohon-pohon lebih berkembang. Dan juga sebagai indikator adanya pohon besar di kawasan habitat burung Rangkong.

Tari Kecak

Sekumpulan penari laki-laki menggerakkan tangannya sambil bersuara yang terdengar seperti cak, cak, cak.. kemudian tidak lama keluarlah penari perempuan yang cantik berada ditengah-tengah kumpulan penari laki-laki tersebut. Suara ‘cak’ tersebut lah yang tari ini dikenal sebagai Tari Kecak.

Tari Kecak merupakan salah satu tarian asal Bali yang banyak dipertunjukkan kepada turis karena keunikannya. Menurut informasi, tari ini diciptakan tahun 1930 oleh seniman Bali bernama Wayan Limbak dan pelukis Jerman terkenal, Walter Spies. Tarian ini terinspirasi dari cerita pewayangan, khususnya Ramayana.

Ramayana merupakan cerita terkenal dalam ajaran agama Hindu, mengenai pertempuran kebaikan dan kejahatan, dimana isteri Rama bernama Shinta, diculik oleh raja raksasa bernama Rahwana, yang berkuasa di kerajaan Alengka. Rahwana yang jahat, akhirnya dapat dikalahkan oleh Sang Rama, yang merupakan titisan Dewa Wisnu.

Tarian Kecak sendiri tidak terlalu mengikuti pakem tari pewayangan seperti tari wayang orang di Jawa. Ada unsur humor dan modern dalam tarian tersebut, sehingga mudah dipahami dan dinikmati orang awam atau wisatawan yang tidak mengetahui cerita Ramayana.

Nona Makan Sirih, Nama Tanaman Pereda Racun

Agak aneh mendengar nama tanaman ini awalnya. Kenapa dinamakan Nona Makan Sirih? Usut punya usut, dikarenakan warna bunga yang berwarna merah, seperti bibir si Nona sehabis makan sirih 😊

Tanaman Nona Makan Sirih bernama latin Clerodendrom thomsonae Balf F. ini ternyata mampu meredakan panas dalam dan mengatasi racun. Wah hebatnya … Tidak hanya itu, tanaman ini juga mampu meredakan radang selaput gendang telinga, kencing manis, dan melancarkan air seni, sehingga terhindar dari gangguan penyakit ginjal.

Uniknya lagi dari tanaman ini, pada saat bunga belum melakukan penyerbukan, warna bunga berupa putih, dan setelah penyerbukan, bunga berangsur-angsur berubah warna menjadi merah keunguan.

Dalam bahasa Inggris tanaman ini disebut dengan Bleeding Heart Vine, berasal dari Afrika, dan merupakan tanaman semak, namun dapat tumbuh keatas sepanjang 4 m, dengan bentuk lilitan. Saat ini, tanaman Nona Makan Sirih menjadi salah satu maskot kota Jakarta, ibukota Indonesia.