Desa Batubulan Bali

Dalam perjalananku ke Pulau Dewata, Bali, aku pun mengunjungi sebuah desa wisata di Gianyar, Bali. Desa Batubulan namanya. Alkisah, desa ini dibangun oleh Dewa Agung Kalesan dan pengikutnya. Awalnya ketika Dewa Agung kalesan memperluas wilayahnya dan menemukan sebuah batu bercahaya seperti bulan di tempat yang sekarang dikenal sebagai Desa Batubulan.

Desa Batubulan merupakan desa wisata yang menjadi pusat sentra kerajinan seperti ukiran kayu, tekstil, dan seni lainnya. Di desa inilah ternyata juga awal munculnya Tarian Kecak. Disini, kita juga akan disuguhkan pemandangan sawah yang indah, seperti dalam kartu pos ini.

Untuk mencapai desa ini kita hanya perlu waktu kurang lebih 30 menit dari bandara atau kota Denpasar, ke arah Ubud.

Tari Kecak

Sekumpulan penari laki-laki menggerakkan tangannya sambil bersuara yang terdengar seperti cak, cak, cak.. kemudian tidak lama keluarlah penari perempuan yang cantik berada ditengah-tengah kumpulan penari laki-laki tersebut. Suara ‘cak’ tersebut lah yang tari ini dikenal sebagai Tari Kecak.

Tari Kecak merupakan salah satu tarian asal Bali yang banyak dipertunjukkan kepada turis karena keunikannya. Menurut informasi, tari ini diciptakan tahun 1930 oleh seniman Bali bernama Wayan Limbak dan pelukis Jerman terkenal, Walter Spies. Tarian ini terinspirasi dari cerita pewayangan, khususnya Ramayana.

Ramayana merupakan cerita terkenal dalam ajaran agama Hindu, mengenai pertempuran kebaikan dan kejahatan, dimana isteri Rama bernama Shinta, diculik oleh raja raksasa bernama Rahwana, yang berkuasa di kerajaan Alengka. Rahwana yang jahat, akhirnya dapat dikalahkan oleh Sang Rama, yang merupakan titisan Dewa Wisnu.

Tarian Kecak sendiri tidak terlalu mengikuti pakem tari pewayangan seperti tari wayang orang di Jawa. Ada unsur humor dan modern dalam tarian tersebut, sehingga mudah dipahami dan dinikmati orang awam atau wisatawan yang tidak mengetahui cerita Ramayana.

Candi Dasa

Candi Dasa, sebuah kawasan wisata di salah satu pulau indah di Indonesia, Bali. Candi berarti tempat beribadat, Dasa berarti sepuluh, Candi Dasa berarti sepuluh candi, menunjuk pada adanya sepuluh tempat beribadat yang mengelilingi kawasan ini.

Berlokasi di Karangasem, sekitar 2 jam dari Denpasar, ibukota Provinsi Bali. Daerah ini mulai menjadi destinasi utama untuk wisatawan pada tahun 1970an, terutama untuk olahraga air, seperti menyelam.

Candi Dasa pada awalnya merupakan nama dari tempat ibadat agama Hindu, yaitu Pura, yang ditujukan kepada Dewa Siwa dan Hariti, pura untuk anak-anak. Kedua pura ini berlokasi di pantai. Dari nama inilah kemudian Candi Dasa menjadi nama kawasan disekitar pantai pura tersebut.

Subak, Budaya Bali yang jadi Warisan Dunia

Pemandangan sawah sudah jadi hal yang biasa di Indonesia, namun sistem pengairan sawah secara tradisional tidak banyak ditemukan di dunia. Dan di Indonesia, tepatnya di pulau Bali, kita bisa menemukan sistem pengairan sawah secara tradisional, bernama Subak.

Subak, sudah lama dipraktekkan di Bali, sehingga menjadi bagian dari budaya Bali. Subak bukan hanya sistem pengairan tradisional, melainkan juga termasuk organisasi lokal yang mengatur sistem pengairannya. Didalam organisasi tersebut juga ada pendirian pura yang khusus memuja pada Dewi Sri, dewi padi, yang dianggap melindungi sawah mereka dari hama, sehingga hasilnya bagus dan dapat dinikmati oleh masyarakat.

Kearifan lokal ini kemudian dijadikan sebagai warisan budaya dunia pada 29 Juni 2012. Sistem Subak ini bisa dilihat pada pemandangan sawah yang bertingkat-tingkat, dan adanya pura di persawahan tersebut.

Pura Ulun Danu

Pulau Bali dikenal sebagai pulau dengan banyak pura (rumah ibadat umat Hindu). Tidak mengherankan karena mayoritas penduduk pulau Bali beragama Hindu. Salah satu pura yang terbesar di Pulau Bali yaitu Pura Ulun Danu.

Pura Ulun Danu bernama lengkap Pura Ulun Danu Beratan berlokasi di tepi Danau Beratan, Bedugul, kira-kira 56 km dari ibukota Bali, Denpasar.

Sejarah pendirian Pura Ulun Danu Beratan dapat dilacak pada salah satu kisah yang terekam dalam Lontar Babad Mengwi. Dalam babad tersebut dituturkan mengenai seorang bangsawan bernama I Gusti Agung Putu yang mengalami kekalahan perang dari I Gusti Ngurah Batu Tumpeng. Untuk bangkit dari kekalahan tersebut, I Gusti Agung Putu bertapa di puncak Gunung Mangu hingga memperoleh kekuatan dan pencerahan. Selesai dari pertapaannya, ia mendirikan istana Belayu (Bela Ayu), kemudian kembali berperang melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dan memperoleh kemenangan. Setelah itu, I Gusti Agung Putu yang merupakan pendiri Kerajaan Mengwi ini mendirikan sebuah pura di tepi Danau Beratan yang kini dikenal sebagai Pura Ulun Danu Beratan

Pura ini diperkirakan berdiri pada 1634 masehi, dan dianggap sebagai bangunan untuk pemujaan kepada tiga dewa yaitu Siwa, Brahma, dan Wishnu. Namun awalnya bangunan ini ditujukan untuk memuja dewa Siwa dan dewi Parwati, dengan adanya simbol kesuburan, yaitu lingga dan yoni.

Selain sebagai tempat beribadat, pura ini juga digunakan sebagai pura Subak, yaitu pura yang mengatur irigasi pertanian dan disokong oleh organisasi adat.

Pantai Sanur Bali

Bali terkenal dengan pantai-pantainya yang indah, salah satunya Pantai Sanur. Pantai Sanur dikenal sebagai salah satu pantai yang tenang, nyaman untuk bersantai, bermain-main, karena pasir putihnya yang tebal.

Di Pantai Sanur ini, kita akan melihat lebih dari 50% pengunjungnya adalah orang asing. Disini kita bisa menikmati es kelapa, makanan dan minuman lain di kedai-kedai kecil di sepanjang taman, bermain kano, atau olahraga air lainnya.

Hal yang menarik di tempat ini juga, terdapat Museum Le Meyeur, seorang seniman lukis Eropa yang menikah dengan perempuan Bali di salah satu pantai di Sanur.

Keindahan bentang alam Pantai Sanur dapat semakin terlihat dari udara seperti yang disajikan di postcard Pantai Sanur ini.

Sesajen, Sesaji, Banten

Ketika kita berkunjung ke Bali, entah liburan, bekerja ataupun kegiatan lainnya, pasti menemui sesaji kecil di berbagai tempat. Entah itu di toko, rumah, jalan, dan lain-lain. Pada beberapa perayaan, sesaji berukuran besar terlihat banyak.

Sesaji atau sesajen atau banten (bahasa Bali), merupakan bentuk syukur atau persembahan kepada leluhur atau nenek moyang, dan kepada mahluk-mahluk di sekitar tempat yang dianggap keramat, agar tidak mengganggu manusia.

Sebetulnya sesaji ini tidak hanya ditemukan di Bali tapi di berbagai tempat di Indonesia. Hal ini masih dilakukan karena masyarakat Indonesia tetap menjalankan tradisi leluhur, tidak terkait dengan agama yang dianut.

Sesajen memiliki nilai yang sakral bagi masyarakat Indonesia, terutama yang masih mempercayai bahwa tujuan pemberian sesaji ini agar mendapatkan berkat, sehingga sesaji diletakkan di tempat-tempat yang dianggap keramat, suci, dan nilai magis yang tinggi. (Diyah Wara)

The “Barong” Story

Dari kisah-kisah di kitab suci, kebajikan (dharma) dan kebatilan (adharma) selalu bertarung dan bertentangan didalam kehidupan manusia. Secara turun temurun kisah pertarungan dan pertentangan ini digambarkan dalam berbagai rupa. Salah satunya melalui tarian. Seperti tari Barong, yang berasal dari pulau dewata, Bali.

Tarian yang berasal dari jaman pra Hindu ini menggambarkan  pertarungan antara kebajikan (dharma) dan kebatilan (adharma). Wujud kebajikan dilakonkan oleh Barong, yaitu penari dengan kostum binatang berkaki empat, sementara wujud kebatilan dimainkan oleh Rangda, yaitu sosok yang menyeramkan dengan dua taring runcing di mulutnya.

Didalam wujudnya, Barong ada beberapa macam, diantaranya Barong Ket, Barong Bangkal (babi), Barong Macan dan Barong Landung. Barong yang sering ditarikan untuk wisatawan yaitu Barong Ket, atau Barong Keket yang memiliki kostum dan tarian cukup lengkap.

Kostum Barong Ket umumnya menggambarkan perpaduan antara singa, harimau, dan lembu. Di badannya dihiasi dengan ornamen dari kulit, potongan-potongan kaca cermin, dan juga dilengkapi bulu-bulu dari serat daun pandan. Barong ini dimainkan oleh dua penari (juru saluk/juru bapang): satu penari mengambil posisi di depan memainkan gerak kepala dan kaki depan Barong, sementara penari kedua berada di belakang memainkan kaki belakang dan ekor Barong.

Secara sekilas, Barong Ket tidak jauh berbeda dengan Barongsai yang biasa dipertunjukkan oleh masyarakat Tionghoa. Hanya saja, cerita yang dimainkan dalam pertunjukan ini berbeda. Beberapa sumber mengatakan bahwa sejarah tari Barong Bali merupakan saduran dari cerita masyarakat Tiongkok yaitu Barongsai, sementara beberapa orang lainnya menganggap ada perbedaan yang sangat jelas antara Barongsai dan Barong dimana menurut mereka tarian Barong memiliki nilai cerita yang baik serta tidak jarang diselingi oleh humor yang segar sehingga dapat menjaga penonton agar tidak bosan, tidak seperti barongsai Tionghoa.

Sedangkan Barong Bangkal disebut juga Barong Celeng. Sesuai namanya, Barong ini memiliki bentuk yang menyerupai seekor bangkal atau bangkung, seekor babi besar yang umurnya sudah tua. Barong jenis ini biasa dipentaskan pada hari-hari keramat dengan cara dibawa berkeliling desa.

Jenis Barong hewan yang terakhir ialah Barong Macan yang sesuai namanya, berwujud macan. Salah satu jenis Barong yang terkenal baik oleh kalangan masyarakat Bali maupun masyarakat luar Bali. Biasa dipentaskan dengan cara diarak mengelilingi desa dan dilengkapi macam-macam peralatan drama seperti gamelan dan lainnya.

Jenis barong yang lain ialah Barong Landung yang tidak lagi berbentuk hewan dan lebih mirip seperti Ondel-ondel Jakarta. Cerita yang meliputi Barong Landung ialah Barong ini merupakan penggambaran dari yang bernama Jaya Pangus dimana ia mempersunting seorang putri Tiongkok bernama Kang Cing Wei. Cerita dalam pementasan Barong Landung berpusat pada bagaimana pernikahan antara kedua manusia tadi tidak direstui oleh para dewa karena Jaya Pangus dinilai telah melanggar adat dan ketika tidak dapat memiliki keturunan ia pergi menemui Dewi Danu dan dijadikan properti milik Dewi tersebut sehingga terjadi pertikaian antara istrinya dengan sang Dewi.

barong bali

Kata “barong” dipercaya muncul dari kata bahrwang yang secara bebas dapat diartikan sebagai beruang. Beruang ini dipercaya sebagai sebuah kekuatan mistis, hewan mitos yang memiliki kekuatan gaib tinggi sehingga dipuja sebagai pelindung.

Tari Barong Bali dijadikan pertunjukkan adalah pada abad ke-19 dimana pada saat itu Raja Kelungkung yang memiliki nama atau julukan Ida I Dewi Agung Sakti meminta diadakannya pertunjukkan yang bentuknya adalah wayang orang dengan total penari sekitar 36 orang dimana sebagian dari penari tadi harus berperan sebagai pasukan dari seekor raja kera dan sebagian lagi berperan sebagai pasukan rahwana. Para penari ini kemudian diharuskan mengenakan topeng dan busana yang terbuat dari serat yang bernama braksok. Saking populernya, pertunjukkan tersebut kemudian diberi nama Barong Kadingkling atau Barong Blasblasan yang jika berkunjung ke suatu desa, diyakini pohon kelapa yang ada di desa tersebut menjadi amat sangat subur.

Selain Barong, pihak lain dalam kisah Barong adalah Rangda yang digambarkan sebagai ratu dari para leak yang ada. Rangda digambarkan sering menculik dan memangsa anak-anak kecil dan memimpin sepasukan penyihir jahat untuk membasmi Barong. Layaknya Barong, ada beberapa jenis Rangda yang ada dan yang pertama adalah Rangda Nyinga yang berbentuk seperti singa dan mulutnya sedikit menonjol untuk menggambarkan bahwa Rangda tersebut memiliki sifat buas seperti singa. Jenis kedua ialah Rangda Nyeleme yang wajahnya mirip dengan manusia demi menandakan bahwa Rangda tersebut berwibawa. Jenis Rangda terakhir ialah Rangda Raksasa yang merupakan gambaran Rangda pada umumnya.

 

Wayang, The Indonesia’s Heritage

101_2066

Pertama kali aku menonton pertunjukan wayang ketika aku masih kecil, sekitar umur 7 tahunan. Waktu itu aku diajak bapakku untuk menonton Wayang orang di gedung pertunjukan di Jakarta. Aku lupa lakonnya apa waktu itu. Sejak saat itu, aku menjadi suka dengan Wayang, terutama Wayang Orang. Aku sering menonton lakon ketoprak di salah satu stasiun televisi lokal yang mirip dengan Wayang Orang setelah itu.

101_2068

Wayang, kesenian lokal Indonesia yang berkembang pesat di Jawa dan Bali, dan mendapat pengaruh dari budaya lokal Jawa bercampur dengan agama Hindu. Ada beberapa jenis Wayang di Indonesia, seperti Wayang Orang, Kulit, Beber dll.

101_1864

Pada 7 November 2003,  Badan Budaya dan Pendidikan Dunia, UNESCO menetapkan Wayang sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Kesenian Wayang hanya dimiliki oleh Indonesia, bahkan pada masa penyebaran Islam oleh sunan-sunan di Jawa, media Wayang-lah yang digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam.

101_1878

Biasanya kesenian wayang mengambil lakon dari cerita Mahabrata dan Ramayana atau cerita tentang kerajaan di masa Jawa Kuno.

Sekarang ini, kesenian Wayang sering dipertunjukan di pernikahan dan acara-acara khusus terutama acara budaya dan seni Jawa.

101_2476