Desa Batubulan Bali

Dalam perjalananku ke Pulau Dewata, Bali, aku pun mengunjungi sebuah desa wisata di Gianyar, Bali. Desa Batubulan namanya. Alkisah, desa ini dibangun oleh Dewa Agung Kalesan dan pengikutnya. Awalnya ketika Dewa Agung kalesan memperluas wilayahnya dan menemukan sebuah batu bercahaya seperti bulan di tempat yang sekarang dikenal sebagai Desa Batubulan.

Desa Batubulan merupakan desa wisata yang menjadi pusat sentra kerajinan seperti ukiran kayu, tekstil, dan seni lainnya. Di desa inilah ternyata juga awal munculnya Tarian Kecak. Disini, kita juga akan disuguhkan pemandangan sawah yang indah, seperti dalam kartu pos ini.

Untuk mencapai desa ini kita hanya perlu waktu kurang lebih 30 menit dari bandara atau kota Denpasar, ke arah Ubud.

Advertisements

Pura Ulun Danu

Pulau Bali dikenal sebagai pulau dengan banyak pura (rumah ibadat umat Hindu). Tidak mengherankan karena mayoritas penduduk pulau Bali beragama Hindu. Salah satu pura yang terbesar di Pulau Bali yaitu Pura Ulun Danu.

Pura Ulun Danu bernama lengkap Pura Ulun Danu Beratan berlokasi di tepi Danau Beratan, Bedugul, kira-kira 56 km dari ibukota Bali, Denpasar.

Sejarah pendirian Pura Ulun Danu Beratan dapat dilacak pada salah satu kisah yang terekam dalamĀ Lontar Babad Mengwi. Dalam babad tersebut dituturkan mengenai seorang bangsawan bernama I Gusti Agung Putu yang mengalami kekalahan perang dari I Gusti Ngurah Batu Tumpeng. Untuk bangkit dari kekalahan tersebut, I Gusti Agung Putu bertapa di puncak Gunung Mangu hingga memperoleh kekuatan dan pencerahan. Selesai dari pertapaannya, ia mendirikan istana Belayu (Bela Ayu), kemudian kembali berperang melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dan memperoleh kemenangan. Setelah itu, I Gusti Agung Putu yang merupakan pendiri Kerajaan Mengwi ini mendirikan sebuah pura di tepi Danau Beratan yang kini dikenal sebagai Pura Ulun Danu Beratan

Pura ini diperkirakan berdiri pada 1634 masehi, dan dianggap sebagai bangunan untuk pemujaan kepada tiga dewa yaitu Siwa, Brahma, dan Wishnu. Namun awalnya bangunan ini ditujukan untuk memuja dewa Siwa dan dewi Parwati, dengan adanya simbol kesuburan, yaitu lingga dan yoni.

Selain sebagai tempat beribadat, pura ini juga digunakan sebagai pura Subak, yaitu pura yang mengatur irigasi pertanian dan disokong oleh organisasi adat.