Nona Makan Sirih, Nama Tanaman Pereda Racun

Agak aneh mendengar nama tanaman ini awalnya. Kenapa dinamakan Nona Makan Sirih? Usut punya usut, dikarenakan warna bunga yang berwarna merah, seperti bibir si Nona sehabis makan sirih 😊

Tanaman Nona Makan Sirih bernama latin Clerodendrom thomsonae Balf F. ini ternyata mampu meredakan panas dalam dan mengatasi racun. Wah hebatnya … Tidak hanya itu, tanaman ini juga mampu meredakan radang selaput gendang telinga, kencing manis, dan melancarkan air seni, sehingga terhindar dari gangguan penyakit ginjal.

Uniknya lagi dari tanaman ini, pada saat bunga belum melakukan penyerbukan, warna bunga berupa putih, dan setelah penyerbukan, bunga berangsur-angsur berubah warna menjadi merah keunguan.

Dalam bahasa Inggris tanaman ini disebut dengan Bleeding Heart Vine, berasal dari Afrika, dan merupakan tanaman semak, namun dapat tumbuh keatas sepanjang 4 m, dengan bentuk lilitan. Saat ini, tanaman Nona Makan Sirih menjadi salah satu maskot kota Jakarta, ibukota Indonesia.

Melati Gambir

Indonesia memiliki banyak bunga khas, salah satunya melati. Melati ini pun dijadikan salah satu maskot kota Jakarta, yaitu jenis Melati Gambir. Melati Gambir? Ya, Melati Gambir, bernama latin Jasminum elongantum, agak mirip dengan kamboja, hanya lebih harum, dan pohonnya lebih rindang. Disebut Melati Gambir, karena bunganya berwarna putih kemerahan, seperti gambir.

Menurut pakar Botani, di dunia, ada sekitar 200-an jenis melati, namun baru 8 jenis yang berhasil dibudidayakan dan potensial menjadi tanaman hias, atau bahan campuran parfum, teh, bunga tabur, campuran kimia, dan lain-lainnya. Di Jawa sendiri, ada 3 jenis melati yang dibudidayakan, yaitu Melati Putih, Melati Gambir, dan Melati Hutan (star jasmine).

Dari sejarahnya, bunga melati secara umum mulai dibudidayakan pertama kali oleh orang Inggris pada tahun 1665. Kemudian ada penemuan jenis melati baru di kawasan India Barat, yang dibudidayakan secara massal pada tahun 1923. Sedangkan tanaman melati di Indonesia, belum tercatat secara resmi kapan mulai dibudidayakan di Indonesia, kemungkinan bersamaan dengan adanya pemerintahan kolonial Inggris. Awalnya rata-rata bunga melati tumbuh di hutan-hutan, dan pada masa pembukaan lahan pertanian dan perkebunan di Jawa, masyarakat pun mulai menanam melati di pekarangan, kebun, atau lahan miliknya atau milik seorang tuan tanah.

Bunga melati berukuran 2-3 cm ini biasanya digunakan sebagai bahan parfum dan pewangi teh. Hampir semua pabrik teh melati di Jawa kemudian menggunakan melati gambir untuk campuran teh melatinya. Melati Gambir ini memang bukan asli dari Jakarta, namun berasal dari pulau Jawa. Dan konon, dulu banyak dikembang tumbuhkan di daerah Jakarta, sebagai campuran untuk teh dan minyak wangi.

Sayangnya, dengan semakin berkembangnya pertumbuhan kota Jakarta, pepohonan Melati Gambir pun mulai menurun.  Karena itu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggunakan bunga ini menjadi salah satu maskot kota.

Elang Bondol, Maskot Jakarta

Salah satu fauna yang dijadikan maskot kota di Indonesia yaitu Elang Bondol (Haliastur indus).  Elang Bondol dijadikan maskot kota Jakarta, ibukota Indonesia bukan tanpa sebab. Fauna ini sudah lama masuk dalam daftar fauna yang terancam punah, karena perdagangan ilegal dan perburuan. Berdasarkan informasi survey 2004, diperkirakan hanya tinggal 15 ekor Elang Bondol yang masih ada, dan hidup di kepulauan Seribu.

Elang Bondol, seperti Elang Laut, hidup disekitar rawa-rawa, tepi laut, muara atau danau. Elang jenis ini tidak hanya ditemukan di wilayah Jakarta tapi juga di pulau lainnya di Indonesia, seperti pulau Sulawesi, dan di benua Asia, serta Australia.

Makanan Elang Bondol yaitu daging segar, seperti ayam kecil, mamalia kecil, kepiting, dan hewan yang lebih kecil dari tubuh Elang Bondol.

Terus, kenapa Elang Bondol dijadikan sebagai maskot? Karena dulu Elang Bondol banyak ditemukan di daerah pesisir Jakarta, dan hutan mangrove (bakau) Jakarta. Tapi seiring jaman jumlahnya sudah semakin menurun, sehingga perlu dilindungi dengan dijadikan maskot kota. (Diyah Wara)

Membangkitkan Rasa Kebangsaan dengan Mengunjungi Monumen Nasional

Proklamasi, kami bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan Indonesia…………...” suara berwibawa presiden pertama Indonesia, Ir.Soekarno berkumandang di ruangan yang berada di atas sebuah bangunan monumen. Monumen Nasional, atau kita sering menyebutnya dengan Monas, berlokasi di Jakarta Pusat. Ketika mengunjungi Monas, terasa rasa kebangsaan pun bangkit, terutama begitu mendengar suara pak Soekarno.

Monumen Nasional (Monas), didirikan pada 1959 dan diresmikan oleh presiden Soekarno pada 17 Agustus 1961. Pembangunan monumen yang menjadi icon kota Jakarta ini, diarsiteki oleh tiga orang sekaligus yaitu Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir. Rooseno.

Bangunan yang memiliki tinggi 132 m dan berbentuk lingga dan yoni, lambang kesuburan laki-laki dan perempuan, merupakan bangunan yang dilapisi oleh marmer. Pada puncaknya terdapat cawan dengan lidah api diatasnya, melambangkan api perjuangan yang tak pernah padam, dibuat dari perunggu dengan tinggi 17 m dan berdiameter 6 m dan memiliki berat 14,5 ton. Lidah emas ini dilapisi emas seberat 45 kg.

Monumen ini dirikan untuk memperingati perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan, berlokasi di taman yang berluas 80 hektar. Taman di sekitar Monas ini juga menjadi salah satu obyek wisata terutama pada hari libur dan akhir pekan. Karena disinilah hutan kota terbesar yang ada di Jakarta.

Pada 12 Juli 1975 Monas resmi dibuka untuk umum, dan bangunannya terdiri dari pelataran bawah, pelataran atas dan ruang Museum, yang buka setiap Selasa – Minggu, Pkl.09.00 – 17.00 Wib.