Tangkuban Perahu

Asap tipis menyelubungi kawasan kawah yang terbuka tersebut. Asap tersebut berasal dari belereng di kawasan kawah tersebut. Pemandangan itulah yang akan kita saksikan kalau berkunjung ke kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu.

Gunung yang berada di Propinsi Jawa Barat ini, termasuk dalam salah satu kawasan wisata terpopuler bagi masyarakat Indonesia.

Konon, gunung ini terbentuk dari perahu yang terbalik. Alkisah, ada seorang pangeran bernama Sangkuriang, yang hidup sendiri di dalam hutan. Sebetulnya Sangkuriang memiliki seorang ibu, bernama Nyi Dayang Sumbi, seorang perempuan keturunan seorang bidadari yang dikutuk sebagai babi hutan dan seorang raja. Nyi Dayang Sumbi memiliki Sangkuriang, hasil pernikahannya dengan seorang raja yang dikutuk menjadi anjing, bernama Tumang. Tumang ini lah yang menemani Nyi Dayang Sumbi selama hidup di hutan. Namun Sangkuriang tidak pernah diberitahu sebetulnya siapa ayahnya. Dan pada saat Sangkuriang remaja, Sangkuriang tidak mendapatkan hewan buruan apapun untuk ibunya. Dia pun membunuh Tumang untuk dipersembahkan kepada ibunya. Mengetahui hal tersebut, Nyi Dayang Sumbi pun murka dan mengusir Sangkuriang dan tidak mengakui nya sebagai anaknya. Sejak itu, Sangkuriang pun hidup sendiri.

Sampai pada suatu hari, Sangkuriang melihat perempuan cantik dan jatuh hati, tanpa tahu bahwa sebetulnya dia adalah Nyi Dayang Sumbi, ibu kandungnya. Sangkuriang pun melamar Nyi Dayang Sumbi, tapi di tolak karena Nyi Dayang Sumbi mengetahui bahwa laki-laki yang melamarnya adalah Sangkuriang, anak kandungnya. Nyi Dayang Sumbi pun mengajukan syarat yaitu pembuatan perahu yang besar sebagai mas kawinnya. Sangkuriang hampir berhasil membuat perahu, hanya Nyi Dayang Sumbi memohon pada dewa untuk menggagalkan pekerjaan Sangkuriang. Akhirnya, Sangkuriang pun gagal membuat perahu dan menendang perahu nya sampai jauh dan jatuh terbalik. Itulah yang diyakini masyarakat sebagai Gunung Tangkuban Perahu atau perahu yang jatuh tertelungkup atau terbalik.

Apapun dongeng tragis yang melatarbelakanginya, kawasan Gunung Tangkuban Perahu memiliki pemandangan yang luar biasa indah seperti di dalam kartu pos ini. Instagramable istilahnya sekarang. Lokasi yang cocok untuk refreshing dan berfoto tentunya. (Diyah Wara)

Advertisements

Air Terjun Maribaya Jawa Barat

Sekitar 15 km dari kota Bandung, ibukota Provinsi Jawa Barat, terdapat tempat wisata yang terkenal yaitu Air Terjun Maribaya. Air terjun ini berada dalam Taman Hutan Ir.H.Djuanda, Maribaya, Lembang.

Air terjun ini biasa disebut dengan Curug Omas, merupakan air terjun yang terbentuk di pegunungan alami. Dengan ketinggian sekitar 30 meter, didekat air terjun terdapat jembatan untuk memudahkan pengunjung menikmati indahnya pemandangan sekitar air terjun dan dinginnya udara di sekitar kawasan.

Di dekat air terjun juga ada bebatuan yang besar, cocok untuk tempat berfoto dan mandi. Tapi tentunya perlu kita siapkan baju untuk ganti apabila ingin berfoto atau mandi di air terjun tersebut. Kita juga bisa berpiknik di sekitar air terjun, terdapat warung yang menjual makanan untuk bisa dinikmati Bersama-sama, atau kita bisa juga membawa makanan sendiri.

Tempat wisata ini dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi dan kendaraan umum, dan untuk masuk dikenakan tiket dengan tarif tertentu.

The Dancing Peacock

Si gadis kecil melihat para penari tanpa mengedipkan matanya sama sekali. Dia sangat terpesona dengan kecantikan dan keindahan para penari yang tengah menarikan tari Merak pada acara yang istimewa. Hari itu, tantenya, Tante Alin menikah dengan seorang pangeran bernama Om Andi. Dan salah satu acaranya tarian tersebut, untuk menyambut para tamu hadir. Setelah tarian selesai, si gadis kecil bertepuk tangan dengan kerasnya dan berbisik pada maminya,”Mami, aku mau menari seperti tadi.” Maminya hanya tersenyum dan esoknya, si gadis kecil mendapat kejutan. Sore hari setelah pulang sekolah, maminya mengantarnya ke sebuah sanggar tari untuk belajar menari.

Tari Merak, tari yang membuat si gadis terpesona, merupakan tari asal bumi Pasundan ciptaan seorang kareografer tari bernama Raden Tjetjep Somantri. Beliau menciptakan gerakan Tari Merak pada tahun 1950-an. Sesuai dengan namanya, Tari Merak diilhami dari kehidupan burung Merak. Utamanya tingkah merak jantan ketika ingin memikat merak betina. Gerakan merak jantan yang memamerkan keindahan bulu ekornya ketika ingin menarik perhatian merak betina tergambar jelas dalam tari ini.

Dalam perjalanan waktu, tari Merak telah mengalami perubahan dari gerakan asli. Dra. Irawati Durban Arjon kemudian menambahkan beberapa koreografi ke dalam tari Merak versi asli di tahun 1965. Dan pada tahun 1985 gerakan Tari Merak kembali direvisi oleh beliau, dan langsung diajarkan kepada Romanita Santoso pada tahun 1993. Karena keindahan gerakan dan kostumnya, tarian ini banyak dipertunjukkan pada upacara pernikahan dan acara-acara khusus menyambut tamu.