Bulus

Tahukah kamu apa itu bulus? Akal bulus? Bukan akal bulus, tapi bulus saja. Tidak tahu ya? Bulus atau labi-labi itu sejenis binatang seperti kura-kura tapi biasanya tinggalnya di sungai, rawa-rawa, atau danau. Mirip kura-kura, cuma tempurungnya lebih lunak, lehernya dapat dijulurkan menjadi panjang, dan moncong yang runcing. Sekilas kepala bulus ini mirip dengan ular, karena itu dikategorikan dalam jenis reptil.

Tidak seperti kura-kura yang jinak, bulus ini dapat menggigit siapapun yang memegang atau dianggap mengancam keselamatannya. Hal yang unik lagi, kaki bulus ini memiliki selaput seperti bebek, dan hewan ini seperti kura-kura atau penyu, dapat hidup di air dan darat.

Di Indonesia, bulus atau labi-labi dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Lombok.

Saat ini, bulus ini sering diburu untuk dibuat menjadi minyak atau makanan Tionghoa bernama Pi Oh. Tidak hanya itu, bulus sering dipelihara dan dikeramatkan, untuk tujuan pesugihan atau mencari kekayaan atau kesuksesan dengan cara cepat.  Minyak bulus dipercaya dapat  menghaluskan kulit, menghilangkan jerawat, mengeringkan luka secara cepat, menghilangkan bekas luka, mengencangkan kulit, menghambat penuaan, dan mengencangkan payudara.

Melati Gambir

Indonesia memiliki banyak bunga khas, salah satunya melati. Melati ini pun dijadikan salah satu maskot kota Jakarta, yaitu jenis Melati Gambir. Melati Gambir? Ya, Melati Gambir, bernama latin Jasminum elongantum, agak mirip dengan kamboja, hanya lebih harum, dan pohonnya lebih rindang. Disebut Melati Gambir, karena bunganya berwarna putih kemerahan, seperti gambir.

Menurut pakar Botani, di dunia, ada sekitar 200-an jenis melati, namun baru 8 jenis yang berhasil dibudidayakan dan potensial menjadi tanaman hias, atau bahan campuran parfum, teh, bunga tabur, campuran kimia, dan lain-lainnya. Di Jawa sendiri, ada 3 jenis melati yang dibudidayakan, yaitu Melati Putih, Melati Gambir, dan Melati Hutan (star jasmine).

Dari sejarahnya, bunga melati secara umum mulai dibudidayakan pertama kali oleh orang Inggris pada tahun 1665. Kemudian ada penemuan jenis melati baru di kawasan India Barat, yang dibudidayakan secara massal pada tahun 1923. Sedangkan tanaman melati di Indonesia, belum tercatat secara resmi kapan mulai dibudidayakan di Indonesia, kemungkinan bersamaan dengan adanya pemerintahan kolonial Inggris. Awalnya rata-rata bunga melati tumbuh di hutan-hutan, dan pada masa pembukaan lahan pertanian dan perkebunan di Jawa, masyarakat pun mulai menanam melati di pekarangan, kebun, atau lahan miliknya atau milik seorang tuan tanah.

Bunga melati berukuran 2-3 cm ini biasanya digunakan sebagai bahan parfum dan pewangi teh. Hampir semua pabrik teh melati di Jawa kemudian menggunakan melati gambir untuk campuran teh melatinya. Melati Gambir ini memang bukan asli dari Jakarta, namun berasal dari pulau Jawa. Dan konon, dulu banyak dikembang tumbuhkan di daerah Jakarta, sebagai campuran untuk teh dan minyak wangi.

Sayangnya, dengan semakin berkembangnya pertumbuhan kota Jakarta, pepohonan Melati Gambir pun mulai menurun.  Karena itu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggunakan bunga ini menjadi salah satu maskot kota.

Cantiknya Candi Buddha, Candi Kalasan

Indonesia punya banyak peninggalan candi, terutama candi agama Hindu dan Buddha. Tidak heran, karena dua agama ini pernah menjadi agama resmi kerajaan-kerajaan di nusantara, terutama tanah Jawa dan Sumatera. Salah satu bangunan candi Buddha yang masih berdiri sampai sekarang, berlokasi di Jogjakarta, tepatnya kabupaten Sleman, salah satu daerah yang terkenal sebagai daerah tujuan wisata di Jawa.

Candi bernama Kalasan ini diperkirakan dibangun pada 778 Masehi, ditujukan untuk pemujaan Dewi Tara, dan tempat bersembahyang para biksu Buddha. Sayangnya di dalam candi ini sudah tidak ada arca Dewi Tara. Menurut informasi, Candi Kalasan ini telah mengalami tiga kali pemugaran. Pemugaran pertama yaitu tahun 1927 sampai dengan tahun 1929 oleh Van Romondt, arkeolog Belanda.

Candi berbentuk empat persegi panjang berukuran 34 x 45 m memiliki dinding dengan pahatan daun kalpataru yang keluar dari jambangan bulat pada bagian kakinya. Sedangkan sepanjang dinding, ada cekungan berisi arca, meskipun ada beberapa cekungan yang kosong. Diatas pintu dan cekungan ada arca bermotif Kala. Ada 4 pintu di keempat sisinya, namun hanya pintu bagian timur dan barat yang ada anak tangga untuk mencapai pintu masuk ruang tengah candi. Relung pintu candi ada pahatan dewa memegang buang teratai.

Bagian atas candi berbentuk kubus yang melambangkan puncan Meru, dikelilingi 52 stupa, dengan rata-rata tinggi 4,60 m. Sepanjang batas atap dan tubuh candi dihiasi deretan makhluk kecil disebut Gana.

Atap candi berbentuk segi delapan, dan bertingkat dua. Tingkat pertama dihiasi dengan relung arca Buddha, dan di tingkat dua dihiasi relung berisi arca Dhayani Buddha. Sebetulnya terdapat stupa di puncak candi, namun karena tiga kali pemugaran tidak ditemukan batu aslinya, maka puncak candi dibiarkan seperti yang bisa kita lihat sekarang.

Bunga Khas Indonesia, Rafflesia Arnoldi

101_5783Rafflesia Arnoldi atau Padma raksasa, merupakan bunga khas Indonesia. Di dunia, bunga ini hanya ditemukan di hutan Jawa, Kalimantan dan Sumatera. Nama Rafflesia Arnoldi berasal dari nama si penemu tumbuhan parasit, Dr.Joseph Arnold dan Gubernur Jendral Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles.

Ditemukan oleh Dr.Joseph Arnold pada 1818 di hutan Sumatera, tumbuhan ini unik karena tidak memiliki daun sama sekali sehingga tidak mampu berfotosintesis. Nutrisi yang diperlukan tumbuhan ini diambil dari inangnya sendiri. Selain itu tumbuhan ini juga tidak memiliki akar dan batang, sehingga hanya terlihat bunganya saja.

Keunikan lainnya yaitu ukurannya yang sangat besar dan berbau seperti sampah. Bau tersebut merupakan daya tarik untuk serangga yang hinggap di tubuhnya dan menjadi makanannya.

Bunga yang tumbuh selama 9 bulan namun hanya mekar selama 5-7 hari saja ini, merupakan lambang dari provinsi Bengkulu, karena diyakini hanya di Bengkulu lah bunga ini masih ada sampai sekarang. Beberapa species dari bunga ini telah dikembangkan di luar Bengkulu, seperti misalnya di Kebun Raya Bogor.

Wayang, The Indonesia’s Heritage

101_2066

Pertama kali aku menonton pertunjukan wayang ketika aku masih kecil, sekitar umur 7 tahunan. Waktu itu aku diajak bapakku untuk menonton Wayang orang di gedung pertunjukan di Jakarta. Aku lupa lakonnya apa waktu itu. Sejak saat itu, aku menjadi suka dengan Wayang, terutama Wayang Orang. Aku sering menonton lakon ketoprak di salah satu stasiun televisi lokal yang mirip dengan Wayang Orang setelah itu.

101_2068

Wayang, kesenian lokal Indonesia yang berkembang pesat di Jawa dan Bali, dan mendapat pengaruh dari budaya lokal Jawa bercampur dengan agama Hindu. Ada beberapa jenis Wayang di Indonesia, seperti Wayang Orang, Kulit, Beber dll.

101_1864

Pada 7 November 2003,  Badan Budaya dan Pendidikan Dunia, UNESCO menetapkan Wayang sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Kesenian Wayang hanya dimiliki oleh Indonesia, bahkan pada masa penyebaran Islam oleh sunan-sunan di Jawa, media Wayang-lah yang digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam.

101_1878

Biasanya kesenian wayang mengambil lakon dari cerita Mahabrata dan Ramayana atau cerita tentang kerajaan di masa Jawa Kuno.

Sekarang ini, kesenian Wayang sering dipertunjukan di pernikahan dan acara-acara khusus terutama acara budaya dan seni Jawa.

101_2476

Celepuk, Indonesia’s owl

 

Burung Celepuk (Opus Lempiji), dapat ditemui di pulau Kalimantan, Sumatera, Jawa dan Bali.  Hewan karnivora ini biasanya memangsa jangkrik, ulat, tikus dan lain-lain. Burung celepuk merupakan hewan noctural yang hidup di ketinggian hingga 1600 m di atas permukaan laut. Celepuk ini berwarna burik dan berukuran kecil, tidak seperti burung hantu lainnya.