Nona Makan Sirih, Nama Tanaman Pereda Racun

Agak aneh mendengar nama tanaman ini awalnya. Kenapa dinamakan Nona Makan Sirih? Usut punya usut, dikarenakan warna bunga yang berwarna merah, seperti bibir si Nona sehabis makan sirih 😊

Tanaman Nona Makan Sirih bernama latin Clerodendrom thomsonae Balf F. ini ternyata mampu meredakan panas dalam dan mengatasi racun. Wah hebatnya … Tidak hanya itu, tanaman ini juga mampu meredakan radang selaput gendang telinga, kencing manis, dan melancarkan air seni, sehingga terhindar dari gangguan penyakit ginjal.

Uniknya lagi dari tanaman ini, pada saat bunga belum melakukan penyerbukan, warna bunga berupa putih, dan setelah penyerbukan, bunga berangsur-angsur berubah warna menjadi merah keunguan.

Dalam bahasa Inggris tanaman ini disebut dengan Bleeding Heart Vine, berasal dari Afrika, dan merupakan tanaman semak, namun dapat tumbuh keatas sepanjang 4 m, dengan bentuk lilitan. Saat ini, tanaman Nona Makan Sirih menjadi salah satu maskot kota Jakarta, ibukota Indonesia.

Advertisements

Elang Bondol, Maskot Jakarta

Salah satu fauna yang dijadikan maskot kota di Indonesia yaitu Elang Bondol (Haliastur indus).  Elang Bondol dijadikan maskot kota Jakarta, ibukota Indonesia bukan tanpa sebab. Fauna ini sudah lama masuk dalam daftar fauna yang terancam punah, karena perdagangan ilegal dan perburuan. Berdasarkan informasi survey 2004, diperkirakan hanya tinggal 15 ekor Elang Bondol yang masih ada, dan hidup di kepulauan Seribu.

Elang Bondol, seperti Elang Laut, hidup disekitar rawa-rawa, tepi laut, muara atau danau. Elang jenis ini tidak hanya ditemukan di wilayah Jakarta tapi juga di pulau lainnya di Indonesia, seperti pulau Sulawesi, dan di benua Asia, serta Australia.

Makanan Elang Bondol yaitu daging segar, seperti ayam kecil, mamalia kecil, kepiting, dan hewan yang lebih kecil dari tubuh Elang Bondol.

Terus, kenapa Elang Bondol dijadikan sebagai maskot? Karena dulu Elang Bondol banyak ditemukan di daerah pesisir Jakarta, dan hutan mangrove (bakau) Jakarta. Tapi seiring jaman jumlahnya sudah semakin menurun, sehingga perlu dilindungi dengan dijadikan maskot kota. (Diyah Wara)