Reog Ponorogo, Legenda Pertarungan Singa dan Merak

Penari berpakaian warna-warni dan menaiki kuda-kudaan terbuat dari anyaman bambu tersebut, menari meliuk-liuk mengikuti irama. Kami menyebutnya tarian kuda lumping, atau kuda yang ‘menggila’ karena irama musik.

Biasanya ketika penari kuda lumping mulai menari, tidak lama kemudian keluarlah penari membawa hiasan bermuka singa dengan bulu merak yang indah. Penari tersebut kami namakan Reog.

Tarian Reog berasal dari daerah yang indah di kaki gunung Bromo, yaitu Ponorogo, sebuah daerah di Provinsi Jawa Timur. Asal tarian ini ada berbagai versi. Namun versi yang terkenal yaitu tentang Ki Ageng Kutu.

Alkisah, seorang tokoh sakti pada masa kerajaan Majapahit, bernama Ki Ageng Kutu yang tidak mempercayai pemerintahan yang dijalankan oleh rajanya, Bhre Kertabhumi, dan melakukan protes melalui seni tari. Protesnya diwujudkan dalam tarian Singa Barong, yang melambangkan kekuasaan yang raja, dengan bulu-bulu meraknya, yang melambangkan pengaruh Tiongkok dalam kerajaan Majapahit pada masa itu. Singa Barong tersebut kemudian dibawa langsung oleh Ki Ageng Kutu, dengan bertumpu pada giginya. Tarian Singa Barong ini yang kemudian dikenal dengan nama Reog Ponorogo.

Advertisements

The Dancing Peacock

Si gadis kecil melihat para penari tanpa mengedipkan matanya sama sekali. Dia sangat terpesona dengan kecantikan dan keindahan para penari yang tengah menarikan tari Merak pada acara yang istimewa. Hari itu, tantenya, Tante Alin menikah dengan seorang pangeran bernama Om Andi. Dan salah satu acaranya tarian tersebut, untuk menyambut para tamu hadir. Setelah tarian selesai, si gadis kecil bertepuk tangan dengan kerasnya dan berbisik pada maminya,”Mami, aku mau menari seperti tadi.” Maminya hanya tersenyum dan esoknya, si gadis kecil mendapat kejutan. Sore hari setelah pulang sekolah, maminya mengantarnya ke sebuah sanggar tari untuk belajar menari.

Tari Merak, tari yang membuat si gadis terpesona, merupakan tari asal bumi Pasundan ciptaan seorang kareografer tari bernama Raden Tjetjep Somantri. Beliau menciptakan gerakan Tari Merak pada tahun 1950-an. Sesuai dengan namanya, Tari Merak diilhami dari kehidupan burung Merak. Utamanya tingkah merak jantan ketika ingin memikat merak betina. Gerakan merak jantan yang memamerkan keindahan bulu ekornya ketika ingin menarik perhatian merak betina tergambar jelas dalam tari ini.

Dalam perjalanan waktu, tari Merak telah mengalami perubahan dari gerakan asli. Dra. Irawati Durban Arjon kemudian menambahkan beberapa koreografi ke dalam tari Merak versi asli di tahun 1965. Dan pada tahun 1985 gerakan Tari Merak kembali direvisi oleh beliau, dan langsung diajarkan kepada Romanita Santoso pada tahun 1993. Karena keindahan gerakan dan kostumnya, tarian ini banyak dipertunjukkan pada upacara pernikahan dan acara-acara khusus menyambut tamu.