Sigale-gale, Kesenian Khas Suku Batak di Pulau Samosir

Aku melihat tulisan dalam postcard bergambar kesenian dari Batak, Sumatera Utara, tertulis Sigale-gale. Apa ya Sigale-gale itu? Ternyata, Sigale-gale merupakan pertunjukan dari Pulau Samosir, Sumatera Utara, yang melibatkan boneka, yang dianggap mistis.

Sigale-gale berbentuk boneka kayu yang dibuat untuk membahagiakan Raja Rahat, salah satu raja dari Pulau Samosir. Alkisah, sang raja memiliki putera tunggal bernama Raja Manggale, yang gugur di medan perang, dan jasadnya tidak pernah ditemukan.

Sang raja pun sangat sedih sampai jatuh sakit. Akhirnya para tetua kerajaan membuat patung yang mirip dengan Manggale, dan memanggil roh Manggale agar patung bisa bergerak dan terlihat ‘hidup’.  Sejak melihat patung itu, sang raja pun sembuh dari sakitnya. Sejak saat itu pun masyarakat Batak menyebut patung tersebut Sigale-gale, diambil dari Manggale.

Versi cerita yang lain, konon ada sepasang suami istri yang tidak dikaruniai keturunan. Sang suami yang merupakan dukun bernama Datu Partoar kemudian pergi ke hutan dan menemukan sebuah boneka mirip anak perempuan dan Datu mengubahnya menjadi seorang anak manusia yang diberi nama Nai Manggale. Nai Manggale dirawat oleh orangtua yang menemukannya dan menari disamping jenazah mereka ketika mereka meninggal, namun Nai sedih karena ia tidak bisa memiliki anak seperti mereka. Pada akhirnya Nai membuat sebuah boneka patung seperti dirinya lagi untuk bisa ia angkat sebagai anak juga. Kebiasaan ini menurun pada warga Samosir ketika mereka menginginkan anak namun tidak bisa mendapatkannya/kehilangan.

Saat ini pertunjukan patung Sigale-gale sudah tidak menggunakan roh tapi dengan teknologi yang bisa menggerakan patung.

Biasanya saat bergerak dan menari, alat musik tradisional bernama sordam, dan gondang sabangunan mengiringi si patung. Kemudian juga terdapat penari tor-tor yang berjumlah 8 sampai 10 orang.

Advertisements

The Coffee

Udah nonton film “Filosofi Kopi” atau baca bukunya? Nah kalau udah baca dan lihat filmnya pasti terkagum-kagum sama minuman yang namanya Kopi. Untuk membuat secangkir kopi, dibutuhkan biji kopi yang tepat . Tahukah kamu, ternyata Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbaik di dunia. Dan kopi termahal di dunia yaitu kopi Luwak juga adanya di Indonesia.

Aku sendiri pernah melihat proses panen kopi Luwak. Ternyata ya, biji kopi Luwak itu, berasal dari kotoran hewan bernama Luwak. Hah? Iya, jangan kaget dulu, jadi ceritanya hewan sejenis musang bernama Luwak itu suka banget mengkonsumsi sama yang namanya tanaman kopi. Nah, ternyata kotorannya si Luwak juga masih berupa biji kopi. Itu karena si Luwak nggak punya sistem pencernaan makanan yang baik untuk menghancurkan makanan yang dia konsumsi. Jadi biji kopi yang dia makan, keluarnya ya tetap biji kopi. Biji kopi ini kemudian dibersihkan dan dimasak jadi asal biji kopi Luwak yang terkenal mahal itu. Kenapa mahal? Karena prosesnya tidak gampang dan si Luwak tidak setiap hari makan biji kopi. Jadi harus dikondisikan Luwak nya makan biji kopi. Di pusat pembibitan dan tanaman kopi di Jawa Timur, beberapa Luwak nya di taruh di kandang dan diberi makan biji kopi. Tujuannya memastikan ketersediaan biji kopi Luwak secara teratur.

Kopi (coffea sp), merupakan salah satu tanaman yang populer di Indonesia terutama untuk ekspor. Tanaman kopi dibawa masuk ke Indonesia pada 1696 oleh Belanda. Kopi yang dibawa waktu itu jenis Arabika, yang dibawa dari daerah Malabar, India. Oleh pemerintah Belanda kopi ditanam di daerah Batavia (Jakarta sekarang) yaitu daerah Pondok Kopi, Sukabumi dan Bogor. Tapi akibat bencana banjir, tanaman kopi di daerah ini musnah. Tanaman kopi ditanam di tempat lain, termasuk Jawa Barat dan pulau lain seperti Sumatera, Sulawesi, Bali dan Timor.

Kopi Indonesia lalu mulai diekspor pada 1711 dan sampai pada pertengahan abad ke-19, kopi Jawa jenis Arabika merupakan kopi terbaik didunia. Bahkan pada 1920 Baru pada 1876, ketika penyakit karat daun melanda tanaman kopi Arabika, kopi jenis ini pun hanya bisa hidup diketinggian lebih dari 1000 m dpl yang mengakibatkan produksi kopi merosot. Perkebunan kopi yang masih tersisa sekarang seperti di Ijen (Jawa Timur), Bukit Barisan (Sumatera Barat), Toraja (Sulawesi Selatan), Mandailing, Sidikalang dan Lintong (Sumatera Utara) dan Gayo (Aceh).

Jenis kopi lain yaitu Liberica pun diperkenalkan pada 1875 oleh Belanda namun juga tidak sesukses Arabika karena rasanya yang lebih asam. Sebagian besar perkebunan kopi kemudian juga dihancurkan oleh buruh perkebunan kopi. Perkebunan kopi jenis ini masih dapat ditemui di Jawa Tengah, Jambi dan Kalimantan.

Di tahun 1900, Belanda mengenalkan jenis kopi Robusta yang lebih tahan penyakit dengan perawatan yang lebih mudah namun produksinya lebih banyak. Kopi jenis Robusta berasal dari Afrika Barat juga lebih banyak kadar caffeinnya dan bisa dibuat sebagai kopi instan, sehingga mudah dikonsumsi oleh semua kalangan. Robusta pun ditanam didaerah-daerah yang ketinggiannya kurang dari 1000 m dpl, di Jawa, Sumatera dan Indonesia Timur menggantikan Arabika. Kopi Indonesia sekarang ini berada di peringkat keempat sebagai penghasil kopi terbaik di dunia.

Dari beberapa artikel yang aku baca, kopi memiliki manfaat buat kesehatan, meskipun untuk orang yang mempunyai penyakit maag atau lambung disarankan untuk tidak mengkonsumsi kopi. Manfaat kopi misalnya dapat mencegah penyakit jantung dan stroke atau mengurangi sakit kepala.